life is like metamorphose, you develop from the simplest one for being the best

Tampilkan postingan dengan label BIUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIUS. Tampilkan semua postingan

Everything is Achievable Through Education

on Minggu, 26 Juni 2011
“Setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan”
-Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1-

Jika ditilik lagi, masih banyak undang-undang terkait yang mendasari bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan itu tidaklah hanya terbatas untuk kalangan ber-DUIT saja. Pun saya juga percaya, kenapa tidak? Kita bangsa yang beradab, tahu bahwa negara ini berdiri atas dasar undang-undang. Namun semakin maraknya pembangunan digaungkan, semakin marak pula anak-anak putus sekolah. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena ekonomi. Benar sekali, ekonomi telah menjadi salah satu faktor penghambat anak-anak Indonesia untuk dapat merasakan manisnya bangku sekolah untuk meraup berjuta-juta ilmu yang dihamburkan oleh seorang pahlawan yang sarat akan jasa dan (sekarang) sarat pula akan tanda jasa.

Memang tidak salah dan tidak bisa disalahkan, bahwa masalah pendidikan yang bagus tidak bisa terlepas dari fasilitas yang membutuhkan banyak biaya. Sekali lagi, sangat banyak biaya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan teman-teman saya “mau kuliah dimana?” saja, saya sangat ciut kalau harus menjawab “ITB”, karena memang dulu di mata dan telinga saya, ITB itu “mahal”.

Imbasnya, saya hanya bisa menyimpan “ITB” dalam angan-angan saya paling dalam. Cuma bisa mencuri-curi mecari info tentang ITB lewat situsnya (www.itb.ac.id; www.usm.itb.ac.id, red). Karena memang belum ada link sama sekali untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang ITB. Belum ada alumni dari sekolah saya (MAN 3 Kediri, red) yang mengambil kuliah di ITB. Entah kenapa, saya juga kurang paham, padahal jika mereka mau mencoba saya yakin pasti bisa menembus soal-soal USM yang katanya bikin sakit perut dan kepala selama berhari-hari itu. Saya juga tidak punya cukup nyali untuk bertanya ini-itu tentang ITB kepada guru konseling. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di universitas yang masih berada di lingkup pengawasan orang tua secara langsung, alias tidak jauh-jauh dari rumah, masih berada di sekitar Jawa Timur. Saya mendaftar jurusan teknik kimia I*S yang berada di kota Surabaya melalui jalur beasiswa dan jurusan farmasi UG* yang berada di Jogjakarta juga melalui jalur beasiswa (PBUTM). Namun entah mengapa saya merasa tidak ada rasa yakin kalau berkas yang saya kirimkan bakal lolos, ditambah lagi bapak saya bilang “kalau kuliah ambil jauh, sekalian saja di Bandung, ada sanak di sana (disesuaikan dengan bahasa indonesia)”. Setelah saya mendaftar di I*S dan UG*, saya tidak berhenti untuk terus berdoa, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”.

Suatu ketika, di warnet sekolah yang biasanya diisi oleh siswa yang suka chatting sesama temannya yang berada di warnet yang sama pula, saya membuka browser internet explorer, yang memang lagi ngetrend-ngetrendnya di jaman itu. Lalu saya buka halaman google dan memasukkan kata kunci “beasiswa s1”. Sengaja saya mengeklik link teratas yang ada kata-kata ITB nya. Dan ternyata, tidak pernah disangka pula, akhirnya saya kuliah di ITB sampai sekarang ini. Saya berusaha dan mencoba untuk mendaftarkan berkas-berkas saya ke panitia Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS). Karena situs yang saya buka ternyata informasi pendaftaran Beasiswa ITB Untuk Semua, a.k.a BIUS, seperti yang biasa teman-teman dan saya menyebutnya. Syarat-syarat telah terpenuhi. Tidak ketinggalan, selembar essay ikut melayang terbang ke Bandung bersama berkas yang lainnya melalui jasa Pos Indonesia yang sekarang pamornya telah tertimbun oleh kehadiran teknologi, namun fungsinya tetap tidak tergantikan dalam hal mengirim dokumen-dokumen penting seperti yang tersebut di atas. Setelah mencoba mengirimkan berkas-berkas tersebut, lagi-lagi saya hanya bisa meminta dan terus berharap kepada Allah, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”. Karena saya yakin, keputusan dari Allah adalah sebaik-baik keputusa

Ikhtiar dan do’a pun terjawab oleh Allah. Meskipun tidak berharap lebih seperti sebelumnya (saat mendaftar di I*S dan UG*), ternyata keinginan orang tua dan saya pribadi dikabulkan oleh Allah. Saat detik-detik pengumuman, saat dimana beribu-ribu calon mahasiswa ITB berbondong-bondong untuk nonton bareng pengumuman hasil USM, saya tidak ada hasrat untuk ikut nobar tersebut. Saat relawan kring-kring saya, mbak Neni yang setia meng-kring-kring saya kapanpun saat dibutuhkan, meminta saya memberikan nomor registrasi dan nomor USM karena beliau mencoba membantu untuk melihatkan hasil USM tersebut. Pun rasa malu atau sedih kalau-kalau hasilnya tidak sesuai harapan sama sekali tidak terpikir. Monoton, datar, mengalir begitu saja. Tiba-tiba bagai serangan fajar di pagi hari, mbak Neni bilang kalau saya diterima di sekolah farmasi. “Alhamdulillah”, hanya ini yang bisa keluar dari pita suara. Tetap biasa saja. Sampai akhirnya besoknya saya baru melihat sendiri kalau ternyata saya memang diterima di ITB. “Alhamdulillah”, lagi-lagi hanya itu yang bisa keluar dari pita suara. Sempat terlintas, “untung dulu pernah nyasar di situs pendaftaran BIUS”, alhamdulillah segera tersadar bahwa sebenarnya bukan karena link itu atau karena keberuntungan saya bisa kuliah di ITB ini, bahwa ini telah ditakdirkan oleh Allah. Iya, ini adalah takdir dari Allah yang harus saya perjuangkan. Sekali lagi, HARUS SAYA PERJUANGKAN!

Benar sekali, perjuangan untuk dapat kuliah di ITB tidak hanya cukup sampai saya lolos USM ITB terpusat saja, karena perjalanan ini masih panjang. Kuliah pun saya baru masih setengah jalan. Ini memang masih sangat panjang. Karena, ini adalah tentang suatu perjalanan, bukan tentang tujuan. Tujuan saya tidak muluk-muluk, saya ingin agar adik-adik saya bisa mendapatkan pendidikan bahkan lebih tinggi dan lebih bagus dari saya. Namun perjalanannya itu lho, subhanallah sekali. Tidak bisa dikatakan mudah untuk bisa masuk dan kuliah di ITB ini, karena perjuangan untuk mencapainya pun juga sangat sulit. Tidak hanya sulit mengerjakan soal USM atau pun soal-soal ujian semesternya (ini pun juga sudah sangat sulit), tapi yang lebih sulit lagi adalah melewati dan meloloskan diri dari ujian kehidupan saat kuliah di ITB ini, banyak sekali ujian (atau cobaan?) yang saya hadapi saat kuliah dan hidup di sini.

Bagaimana saya bisa kuat? Itu yang biasanya sering terlintas dan tidak pernah saya jawab sendiri. Saya hanya berusaha merubah frame pikir saya, bahwa ujian-ujian itu akan membuat saya lebih kuat dari sebelumnya.
“Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya, melainkan agar dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, menjadi lebih sabar dari sebelumnya, dan menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.”
Sama seperti ujian pada umumnya, semua ujian adalah untuk meluluskan, dan bukan meloloskan, seseorang ke tahap yang lebih tinggi. Yang terpenting adalah kita harus mampu untuk melewatinya. Satu-satunya cara adalah berusaha dan terus berjuang serta tak lupa berdoa kepada Allah agar kita bisa terlatih sehingga akan mudah untuk melewati semua ujian yang kita hadapi.

Satu kunci yang selalu saya pegang adalah “YAKIN”. Ya, kita harus yakin terhadap semua yang kita lakukan, karena Allah itu ada dalam prasangka hamba-Nya. Yakin bahwa semua hasil usaha yang kita lakukan adalah yang terbaik yang diputuskan oleh Allah untuk kita. Kalau menurut kita hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, itu berarti hasil yang kita inginkan bukanlah yang terbaik untuk kita.

Just believe Allah, and you will know how enjoying your live. InsyaAllah
Thanks Allah, thanks BIUS, thanks all :D

Sebuah surat dari masa depan

on Kamis, 09 Desember 2010
Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: "JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR". Tapi tak seorang pun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air. Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi. Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon] Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari 'kawasan ventilasi' yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam 'kawasan ventilasi' tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas. Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ? Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga !. Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir. Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi. Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak, untuk masa depan kita dan generasi kita.

"AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPAN"

My Mother, My Hero

on Sabtu, 27 November 2010
Who should I give my love to?
My respect and my honor to
Who should I pay good mind to?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hold you
And clean you and clothes you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That's right no other
My mother...
Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think the most of?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hear you
Before you could talk
Who used to hold you?
Before you could walk
And when you fell who picked you up
Clean your cut
No one but your mother
My mother
Who should I stay rigt close to?
Listen most to
Never say no to
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hug you
And buy you new clothes
Comb your hair
And blow your nose
And when you cry
Who wiped your tears?
Knows your fears
Who really cares?
My mother
Say Alhamdulillah
Thank you Allah
Thank you Allah
For my mother....
My Mother, Yusuf Islam

Sebuah lagu yang membuat saya selalu ingat betapa beruntungnya saya memiliki seorang ibu yang sangat tangguh saat saya jatuh. Ya, Ibu saya adalah Pahlawan saya. Memang dari dulu belum pernah ada sekolah khusus untuk menjadi ibu seperti sekolah menjadi dokter, pengacara, akuntan, maupun profesi lainnya. Walaupun banyak sekali seminar, pelatihan, maupun buku-buku tentang bagaimana menjadi orang tua (ibu, red.) yang baik, bagaimana mendidik anak, dan berbagai topik berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu, namun itu bukanlah sebuah sekolah dan tidak akan pernah cukup untuk mempersiapkan dan melengkapi diri seorang wanita untuk menjadi ibu. Namun ibu saya bisa melakukan semua itu perfectly.

Menjadi ibu adalah sesuatu yang mulia, sebuah pelayanan kepada anaknya yang tidak tampak di muka umum dan memiliki tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan kerelaan hati. Menyita 24 jam hidupnya, dalam 7 hari seminggu, selama 52 minggu setahun. Itu semua dilakukan hanya untuk anak-anaknya. Betapa mulianya Engkau, Ibuku. 

Ibuku, yang selalu siap mengulurkan tangan menjawab kebutuhan anak-anaknya, tidak peduli rasa letih menguasai tubuh. Memberikan pelukan hangat di saat anak-anaknya merasakan kesepian. Mengucapkan kata-kata penghiburan kala anak-anaknya merasa sedih. Mendorong penuh semangat sewaktu anak-anaknya mengalami kegagalan.
  
Begitu berat memang tanggung jawab seorang Ibu. Beliau sangat ikhlas melakukan itu semua, demi masa depan anak-anaknya. Namun apa yang telah saya lakukan untuk Ibu? Bahkan saya belum bisa membalasnya, 1% pun belum. Memang kasih sayang seorang Ibu tidak akan bisa dibalas dengan sesuatu. Dan seorang Ibu tidak akan pernah meminta imbalan kepada anak-anaknya. Ibu hanya ingin melihat kegahagiaan dari anak-anaknya. Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya sukses. Namun, apa yang sudah saya lakukan? Bahkan diminta tolong saja selalu mencari-cari alasan. Dinasehati dengan satu kata, saya menjawab dengan beribu kata. Namun, Beliau tidak pernah marah dengan itu semua. Sekali lagi, sungguh mulia Engkau Ibu.
Sebuah ungkapan mengatakan, “dibalik kesuksesan seorang pria, ada seorang wanita.” Kita lirik sebentar sejarah masa lalu. Tokoh besar seperti Daud, nama Ibunya tidak pernah tercantum dalam kitab suci, namun Beliau memberikan kontribusi yang besar bagi seorang Daud kecil sehingga tumbuh menjadi seorang yang berpengaruh terhadap umatnya. 
Ibu, saya yakin dan sangat yakin, jerih lelah Engkau sebagai seorang ibu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Walaupun saya belum bisa membalas semuanya, dan tidak akan pernah bisa membalas semua itu. Walaupun predikat pahlawan tidak pernah diberikan oleh pemerintah, namun engkau adalah pahlawanku, yang tidak pernah mengenal kata menyerah.


Dengan Berbakti kepadanya lah, sebuah bentuk cinta dan sayang kita kepada Ibu.
For My Mother, My Hero :D

Pemimpin, Komunikasi, dan Harapan

on Jumat, 19 November 2010
Artikel yang sangat bagus,,,
ditulis oleh seorang berjiwa pemimpin, Ibu Betti Alisjahbana (Presiden IBM, Ketua Penyelenggara Beasiswa  ITB Untuk Semua, Ketua QB)
Semoga bisa membuka pikiran kita tentang makna PEMIMPIN



Kepemimpinan secara sederhana didefinisikan sebagai seseorang mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Sementara komunikasi adalah instrumen yang sangat penting  dalam kepemimpinan. Suatu kepemimpinan bisa sukses atau gagal karena komunikasi. Ada tiga hal yang penting dalam berkomunikasi, yakni konsistensi, kejelasan, dan kesopanan.
  • Konsistensi. Tim akan frustasi jika kata-kata pemimpinnya tidak bisa dipegang. Demikian pula bila tidak ada kesesuaian antara perbuatan dan tindakan.
  • Kejelasan. Tim tidak bisa melaksanakan rencana bila tidak mengerti apa yang diinginkan oleh pemimpinnya. Tidak ada gunanya mencoba membuat tim kagum akan intelektualitas kita dengan mengunakan istilah-istilah yang rumit.
  • Kesopanan. Setiap orang ingin diperlakukan dengan sopan dan hormat, siapapun mereka.
Komunikasi Ala ObamaHadir di kuliah umum Obama minggu lalu, saya semakin disadarkan betapa kepiawaian  berkomunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam kepemimpinan. Berbicara di depan sekitar 7.500 hadirin, Obama menyampaikan pesannya dengan sangat menggugah.

Obama—yang memilih topik tentang pembangunan, demokrasi, dan kerukunan beragama—membuka pidatonya dengan nostalgia masa kecilnya di Indonesia. Ia bercerita bahwa tinggal di negeri yang sangat beragam seperti Indonesia, dengan ribuan pulau, ratusan bahasa dan etnis, serta sejumlah agama, membantunya menjadi lebih humanis. Dua kali ia menekankan, asas Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, menjadi contoh bagi dunia dan membuat Indonesia akan memainkan peranan penting pada abad ke-21.

Tentang demokrasi, Obama menyampaikan kekaguman dunia melihat Indonesia yang berhasil melakukan peralihan kepemimpinan dengan damai, dan menerapkan sistem demokrasi di mana rakyat memilih langsung para pemimpinnya. Obama pun menyampaikan, “Ketika kita banyak mendengar bahwa demokrasi menghalangi kemajuan ekonomi, apa yang dicapai oleh India dan Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan ekonomi saling memperkuat.

“Seperti negara demokrasi lainnya, ada masalah-masalah yang timbul sepanjang jalan. Amerika pun demikian. Indonesia mengalami pasang surut dalam menjalankan demokrasi. Perjalanan itu sangat berharga. Dibutuhkan insitusi yang kuat untuk mengawasi konsentrasi kekuatan, dibutuhkan pasar yang terbuka yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk sukses, dibutuhkan kebebasan pers dan sistem hukum yang independen untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan untuk mendorong akuntabilitas. Dibutuhkan masyarakat yang terbuka dan warga yang aktif untuk menolak ketimpangan dan ketidakadilan. Kekuatan-kekuatan ini yang akan membuat Indonesia sukses di masa depan.”

Tentang agama, Obama menyampaikan bahwa Indonesia adalah tempat di mana masyarakat mengagungkan Tuhan dengan cara yang beragam. Ia lalu bercerita tentang kunjungannya ke Masjid Istiqlal, tempat beribadah ribuan kaum muslim yang dirancang oleh arsitek beragama kristen yang menggambarkan spiritIndonesia yang inklusif, yakni Pancasila.

Islam tumbuh berkembang di Indonesia, demikian juga agama-agama lainnya. Obama lalu bercerita tentang ketegangan antara Amerika dan komunitas Islam serta upaya-upayanya untuk memperbaiki hubungan ini, yang dikatakannya tidak mudah dan penuh tantangan. Namun, Amerika akan terus berusaha untuk mewujudkan perdamaian dan toleransi antaragama.Inspirasi Obama

Hanya 30 menit Obama berbicara, tetapi begitu dalam maknanya. Yang istimewa dari Obama adalah kemampuannya menggugah semangat. Dia menggambarkan tantangan-tantangan yang ada, mengakui secara jujur dan terbuka situasinya, termasuk apa yang salah sebelumnya. Namun dia juga mengingatkan, termasuk memberikan alasan yang kuat kenapa kita pantas optimis terhadap masa depan. Misalnya, saat membahas tantangan-tantangan yang dihadapi Amerika dalam memperbaiki dan membangun kembali hubungannya dengan masyarakat Islam yang sempat rusak, Obama mengakui kesalahan pendekatan pada masa lalu. Ia pun menunjukkan apa yang sudah dia lakukan dan apa yang akan terus dilakukannya.

Obama membuat rakyat Indonesia merasa bangga bahwa negara kita dibangun dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila yang sangat modern dan berpandangan jauh ke depan. Kita pun dibuat besar hati bahwa, meskipun kita melihat masih banyak masalah dalam penerapan demokrasi di Indonesia, tetapi sebenarnya banyak kemajuan yang telah dicapai yang membuat Indonesia berdiri lebih kokoh menyongsong masa depan.

Meskipun demikian, kita sadar betapa keberagaman dan toleransi yang dipuji oleh Obama akhir-akhir ini terancam. Muncul kelompok-kelompok agama yang semakin militan. Penghancuran rumah ibadah, penganiayaan penganut aliran keagamaan, dan perusakan tempat hiburan begitu sering terjadi. Di Yogyakarta, hanya sehari sebelum Obama datang, sekelompok orang tega mengusir pengungsi Merapi dari tempat penampungan di sebuah gereja. Alasannya sungguh aneh: gereja bisa digunakan untuk mengkristenkan para pengungsi.

Alangkah indahnya bila Presiden kita pun mengakui secara jujur dan terbuka tentang masalah-masalah yang kita hadapi saat ini, serta menyampaikan niatnya yang kuat untuk mengatasi radikalisme, mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu dalam upaya mengatasi radikalisme tersebut, dan mengambil langkah-langkah nyata dan konsisten betapapun sulitnya. Karena hanya dengan mengakui masalah yang ada dan mengambil langkah-langkah yang konsisten, kita bisa mengatasi masalah radikalisme itu dan menguatkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, dan demokrasi yang menjadi pondasi kokohnya negara kita.

Semoga inspirasi Obama membuat kita semakin sadar betapa berharganya Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, dan demokrasi; serta membuat kita bersatu untuk melindungi ketiganya dari usaha-usaha sekelompok orang yang ingin menodainya.

Kita semua bisa belajar dari Obama mengenai komunikasi yang jernih, jujur, dan menggugah semangat persatuan di dalam memecahkan masalah-masalah yang ada dan menanamkan optimisme akan masa depan yang cerah.

It's All About How, Not About What

on Selasa, 26 Oktober 2010
Satu hal yang harus disadari adalah keridhoan seorang hamba kepada Allah dalam segala hal akan membuat Rabb ridho kepadanya. Ketika seorang hamba ridho dengan rezeki yang sedikit, maka Allah akan ridho kepadanya dengan amal sedikit yang ia persembahkan. ketika seorang hamba ridho terhadap semua keadaan yag melingkupinya, dan tetap mempertahankan kualitas keridhoan itu, maka Allah akan cepat meridhoinnya ketika dia meminta keridhoannya. Lihatlah orang-orang yang ikhlas. walaupun ilmunya sedikit, tapi Allah meridhoi semua usaha mereka, karena memang mereka ridho kepada Allah. (Laa Tahzan)

Berbeda dengan masa-masa TPB yang setiap hari jum'atnya hectic karena UTS, di semester 3 ini, saya mengulang lagi masa-masa SMA yang UTS nya dibabat habis dalam waktu satu minggu yang ditambah manis dengan praktikum. Awalnya berat memang, mata kuliah farmasi yang menurut saya belum 100% saya pahami, harus diuji dalam waktu 1 minggu. Ini ujian lho, bukan ulangan yang hanya mengulang-ulang permasalahan yang selalu dibahas tiap kali kuliah. Dengan berusaha stay cool, tanpa memperlihatkan penat yang ada di kepala, rasanya agak membantu mengurangi pikiran yang berisi mata kuliah yang berat ini, dan tanggung jawab yang tidak hanya kepada orang tua saya, namun juga kepada semua yang telah memperjuangkan saya untuk bisa kuliah di ITB ini. 
Sekilas, namun dalam banget, saya jadi ingat janji saya sekitar 1 tahun yang lalu, tepatnya 12 Juli 2009, saat pengumuman hasil USM ITB 2009 menyatakan bahwa saya mendapatkan tempat di sini. Janji  bahwa saya akan memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Tidak peduli bagaimana sibuknya nanti, karena  saya yakin masih banyak yang lebih sibuk dari saya. Tidak peduli bagaimana capeknya nanti, karena saya yakin masih banyak yang lebih capek dari saya. Dan tidak peduli bagaimana hasilnya nanti, karena semua ketetapan hanya ada di tangan-Nya, saya sebagai hamba hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Janji ini serasa menjadi cambuk buat saya untuk terus berusaha menjadi "Agent of Change", yang juga merupakan jargon kebanggaan kami (BIUSers, red.). Janji yang serasa menjadi cambuk buat saya untuk terus berusaha dapat memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Iya, memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
Tidak perlu muluk-muluk, negeri ini saya rasa tidak butuh uang milyaran, negeri ini saya rasa juga tidak butuh rumah mewah yang harganya milyaran. Namun, negeri ini sangat sangat sangat membutuhkan generasi yang JUJUR dan DISIPLIN. Dan itu semua tidak didapatkan dari manapun, melainkan dari diri sendiri.
"Mulai dari sekarang, mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri "  
Sedikit mengutip kata2 Aa Gym (ga terlalu hapal urutan kalimatnya, intinya mah kurang lebih kayak gitu). Mulai dari sekarang, iya, mulai dari sekarang saat diri ini ditempa di kampus (yang awalnya) terbaik bangsa (dan semoga menjadi terbaik bangsa lagi), selayaknya nilai-nilai yang baik dapat tertanam dalam jiwa mahasiswa untuk seutuhnya menjadi mahasiswa yang manusiawi. Mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari diri sendiri, seperti kata pepatah, "sumber air yang kecil, lama-lama akan menjadi sebuah pancuran air yang besar", ya, semua hal yang besar itu berawal dari hal yang kecil. Misalnya saja seorang koruptor, sama-sama telah kita ketahui bahwa mental koruptor itu sama sekali tidak ada kejujuran dalam diri dan jiwanya. Dengan membiasakan hidup jujur yang dimulai dari diri sendiri, akan dapat membantu menciptakan generasi yang jujur pula. Misalnya, tidak menyontek saat ujian. Sepele kelihatannya, namun hal ini akan berimbas kepada hal yang besar. Karena hal inilah, kenapa ITB selalu menggaungkan dan mengkampanyekan UTS BERSIH. Karena, dari sinilah pemimpin akan muncul.

JUJUR dan DISIPLIN. Dua hal yang semoga terus dapat saya junjung sebagai prinsip hidup saya. Dan dari sinilah, saya menyadari, UTS bukan lah perkara yang semata-mata berujung pada nilai, yang akhirnya tidak sedikit orang yang menghalalkan semua cara demi nilai tersebut. UTS adalah tentang bagaimana nilai-nilai luhur bangsa ini dijunjung, tentang bagaimana proses didalamnya, bukan melulu berorientasi kepada hasil. Nilai memang penting, namun itu hanyalah efek samping saja. Anggaplah sebagai hadiah dari Allah, bahwa kalau sudah berusaha, berdoa, dan dilaksanakan dengan jujur, saya yakin, hasilnya tidak akan mengecewakan, namun apabila prosesnya tersebut tidak sesuai, misal dilaksanakan dengan tidak jujur, nilai pasti dapat didapatkan dengan mudah, namun apakah kita melupakan naluri dan Tuhan? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh individu masing-masing.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari diri sendiri, saya, berusaha untuk memperbaiki semua yang bisa diperbaiki (lhoh?), maksudnya, berusaha berbuat yang terbaik yang dapat saya berikan. "Agent of Change" akan terpatri dalam diri ini. "Agent of Change" tidak hanya untuk sebuah jargon, ataupun hiasan jaket semata, namun "Agent of Change" adalah untuk dipikirkan, direnungi, dan dibuktikan!!!

Salam Hangat Penuh Semangat!!!

BIUS Chalenge -Agustus-

on Senin, 30 Agustus 2010

INKM, kaderisasi yang pernah melewati masa-masa tidak nyaman yang membuat mahasiswanya menjadi manusia pilihan masa depan...




Acara yang berlangsung secara estafet selama 2 bulan berturut-turut ini merupakan acara yang sangat penting di mata masa kampus ITB. Bagaimana tidak, mereka sudah mengklaim bahwa ini merupakan acara yang bertujuan untuk menurunkan nilai-nilai kampus ITB kepada generasi penerus kampus ini. Kegiatan yang dimulai dengan pembekalan kepada ca-panitia selama hampir dua bulan ini sangat berpengaruh banyak. Bisa dibilang kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk merubah pola pikir, sikap, dan pola bincang mahasiswa yang terlibat dalam kepanitiaan khususnya menjadi lebih matang untuk menghadapi setiap permasalahan.


Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa yang kemudian berubah nama menjadi Inisiasi Keluarga Mahasiswa memang tidak selalu berjalan mulus. Setiap jalan yang diambil selalu menemui ketidaksepahaman di antara beberapa pihak. Mulai dari nama, rundown harian, bahkan konsep acara merupakan korban dari ketidaksepahaman tersebut.
Ketidaksepahaman ini bisa jadi karena kaderisasi-kaderisasi yang sebelumnya pernah ada di kampus ITB atau kampus lainnya yang dilakukan dengan keras (tahun 80-an, red) sehingga membentuk suatu persepsi yang selalu buruk. Bisa dilihat para petinggi ITB yang memegang tanggung jawab dari orang tua mahasiswa atau bahkan jadi orang tua atas mahasiswa itu sendiri selalu merasa khawatir terhadap anak didiknya, mereka takut kalau-kalau mahasiswa baru diperlakukan tidak manusiawi oleh panitia ataupun masa kampus. Ketakutan itu terjadi entah karena frame pemikiran terhadap kegiatan kaderisasi yang buruk ataupun kekurangpercayaan mereka terhadap mahasiswanya sendiri yang menjadi eksekutor kegiatan kaderisasi dan penerimaan mahasiswa baru ini. Dari kekhawatiran tersebut lah mereka menjadi lebih mengendalikan acara INKM, bukan mengontrol ataupun memantau, TAPI MENGENDALIKAN. Belenggu-belenggu (pengendalian yang berlebihan dari rektorat, red) tersebut tidak begitu terlihat saat masa-masa diklat ca-panitia, namun hal ini sangat terlihat saat hari terakhir (closing, red) yang di dalam acara closingnya ada interaksi dengan masa kampus. Karena mungkin seperti yang telah tersebut di atas tadi, mereka kurang percaya terhadap mahasiswanya, maka mereka mencabut izin untuk melakukan closing pada malam hari dengan alasan tidak setuju dengan adanya interaksi masa kampus.
Sebenarnya hal ini tidaklah serta-merta terjadi, namun segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Memang semua ada konsekuensinya. Satu kali panitia pernah melanggar kesepakatan bahwa jam pulang INKM adalah pukul 17.00 WITB tepat, tidak lebih, tapi kurang boleh. Hal ini dilakukan panitia pada hari ke-0 INKM saat setelah gladi resik acara sidang terbuka, mengulur waktu pulang sampai pukul 20.00 WITB karena jadwal dari awal yang telah molor. Akhirnya kepercayaan itu seakan-akan dicabut oleh rektorat. Sehingga setiap gerak panitia selalu diawasi, apalagi sekarang ada UPT baru yang disebut-sebut sebagai K3L (Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja Lingkungan). Dan inilah tantangan untuk panitia untuk tidak mengkambing-hitamkan pihak manapun, namun seharusnya menjadi sebuah pemicu untuk selalu berusaha menyelenggarakan acara INKM ini semaksimal dan sebaik mungkin.
Dan inilah mahasiswa, bisa mengambil setiap pelajaran dan konsekuensi terhadap setiap tindakan yang diambil. Dengan berbagai macam kendala yang selalu ditemui di tengah kegiatan INKM, namun mereka tidak ada yang mundur, bahkan semangatnya semakin berkobar. Hal ini mereka lakukan demi terbentuknya generasi-generasi muda ganesha yang lebih baik.


Mentari menyala di sini...
Di sini, di dalam hatiku...
Gemuruhnya sampai di sini...
Di sini di urat darahku..
Meskipun tembok yang tinggi menghalangiku...
Berlapis pagar duri sekitarku...
Tak satu pun yang mampu menghalangiku...
Menyala di dalam hatiku...
Hari ini hari milikku...
Juga esok masih terbentang...
Dan mentari kan tetap menyala...
Di sini, di urat darahku...
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater!!!

BIUS-BIUS Persahabatan

aLUKIsah ada empat sahabat yang belajar di inSUSItut teknologi bandung. empat sahabat kARBI yang sangat akrab. saling mengisi dan gila-gilaan alias EDIan-edanan, sampai-sampai mereka mau tinggal di kostan yang LEOt hampir ambruk. bayangkan kalo ada angin TOPAN atau BADAWI, biCHA MIDAH ditebak apa jadinya rumah itu.


empat sahabat itu adalah BIBIT yang mirip dengan teroris ali IMRON, REYCAL yang meNURUL teman-teman mirip dengan aktor IRWANsyah, ARDIAN yang menjadi tokoh VITAl di organisasinya yang bergerak di bidang ANTIKArupsi, dan SETYOrang lagi LUTFItamala, cewek geuLISTYA yang mahir bahasa ARAIb karena ayahnya berAZKAl dari mesir. mereka berempat berEKAwan sejak masuk kuliah pertama.


jam berganti hari, HARIS berganti minggu, minggu berganti WULAN , dan tahunpun ikut berganti, tlah mereka lewati bersama. mereka berIKRAR bahwa mereka harus bersama-sama dalam suka ataupun duka. ikrar itu mengICHAratkan BIUS-BIUS PERSAHABATAN yang TEGUH. namun suatu hari kenyataan pahit harus mUMIsahkan mereka. YENI, ibunda lutfi mengajak WINDAh ke negara FAFAnya di mesir. mungkin iNIR MALAm terakhir bagi mereka untuk berkumpul. mereka rela tidak tidur karena perPISKAhan yang VERIh akan mereka alami. tapi keDEWIsaan pikiran mereka membuat mereka tegar menerima kenyataan. sebelum bubaran, mereka sholat WIDIr di penghujung malam, berdo'a agar mereka bisa bertemu lagi.


setelah MAHDI dengan air hangat dan sAYApan pagi, lutfi kaget dengan kejutan sahabat-sahabatnya yang memberi boneka suSANTO sebagai kenang-kenangan. mereka pergi ke bandara, menggunakan POMTO (jas hujan) karena hujan sanagt deras, perjalanan ke bandara pun ditemani dengan derai hujan pengiring perpisahan...




BIUS NEVER END!!!

calendar

clock

Profil

Foto saya
Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik, agar tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi

Sahabat Yang Telah Bertamu

Serpihan Cerita

Diberdayakan oleh Blogger.

ayat hari ini

"Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. AL ISRA:19)

label

puzzle

cari