life is like metamorphose, you develop from the simplest one for being the best

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

sungguh, telah berlalu masa-masa untuk tidur...

on Rabu, 18 Januari 2012
rabu, ya hari rabu saat saya masih bertahan di english camp kampung inggris pare. satu hari, dua hari, tiga hari, rasa-rasanya berlalu tanpa saya merasa ada hal baru yang bisa saya dapat disini. memang awalnya saya memilih program speaking dan toefl, namun sepertinya memang belum diizinkan untuk ikut program tersebut, yah kelas yang saya pilih sudah penuh dengan para pengembara ilmu dari berbagai pulau. saya jalani apa adanya, tanpa semangat, tanpa senyum, flat. ditambah dengan teman saya yang lebih menghilangkan semangat ku saat itu. aku berfikir, kalo teman saya ga bisa menularkan semangat ke saya, berarti saya yang harus membom semangat ke dia. 
dan seperti itu lah sehari-hari ku, pagi sampe malem diisi dengan belajar yang monoton. sampai suatu ketika, saat jadwal malam tiba, entah kenapa semangat dalam diri ini membludak. ternyata kita satu kelas dipertemukan dengan native speaker asal Australia yang sudah lama tinggal di Indonesia. Mr. Abdullah nama beliau. sebenernya awalnya saya kurang begitu excited dengan tamu tersebut. satu, dua sampai mendekati menit ke-30an, saya menjadi sangat kagum dengan beliau. bagaimana tidak, semangat berdakwah dalam dirinya sangat berkobar. setiap apapun yang keluar dari pita suaranya, semuanya dikaitkan dengan islam, semuanya dikaitkan dengan bagaimana mengagungkan Allah.
saat itu beliau bertanya, "how do yo answer if people ask you 'how are you?'". secara otomatis kita semua menjawab "i'm fine". lalu beliau mengutarakan maksudnya dengan menanyakan kenapa kita tidak menjawab dengan mengucap syukur dulu ke Allah? iya, pelajaran bahasa inggris yang sesederhana itu, mungkin kita tidak menyadari bahwa di setiap sendi kehidupan ini harusnya kita tetap mengingat Allah. lalu kami meralatnya menjadi, "alhamdulillah, i'm fine!"
setelah beberapa saat, Mr. Hadi sebagai momod dari kegiatan tersebut, sekaligus pemilik bimbingan belajar tersebut memberikan saya kesempatan untuk menanyakan sesuatu ke Mr. Abdullah, beliau juga seorang muallaf. Akhirnya dengan tanpa pikir panjang, saya menanyakan bagaimana kehidupan di Indonesia dibandingkan dengan Australia. dan lagi-lagi beliau menjawabnya dengan tetap mengaitkan dengan kehidupan Islam. beliau berkata bahwa kehidupan di Indonesia sangat toleran dan sangat kondusif untuk mendakwahkan islam. berbeda dengan negara Australia yang notabene penduduk muslimnya relatif sedikit. meskipun di Australia tidak ada hambatan dalam beribadah, namun kehidupan yang islami sangat sulit didapatkan di sana, apalagi untuk berdakwah, sangat sulit.
pertanyaannya, bagaimana dengan kita sebagai putra dan putri bumi pertiwi ini? relakah kita, jika Indonesia ini hancur karena pemudanya kurang atau bahkan tidak mengenal islam? ini tugas kita kawan, tugas kita untuk menyampaikan apa yang harus kita sampaikan, menngajak siapapun untuk kebaikan, demi Indonesia yang madani.
setiap muslim adalah refleksi untuk muslim lainnya. mari kita berkaca kepada beliau yang meskipun usianya jauh lebih tua daripada kita, namun semangat untuk tetap menggali ilmu dan menyebarkan agama Islam di bumi Allah masih sangat panas. apakah kita yang masih muda api semangat juang kita kita diamkan padam begitu saja? tanyakan pada hati!


"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

karena beliau pun mengingatnya...

on Sabtu, 19 November 2011
Orang bilang anakku seorang aktivis, dengan segudang aktivitas yang disebutnya amanah umat.

Orang bilang anakku seorang aktivis, tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? menurut Ibu, engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan sesuatu yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada disatu atap, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, ingin mendengar cerita ceriamu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?

Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal, andai saja engkau tahu nak, sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam prioritas yang kau buat?

Mungkin, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Bukan judgement bahwa seorang aktivis sering melupakan satu amanah terpenting untuk keluarga mereka, karena saya yakin, aktivis yang paham, mereka pasti mengamalkan dan melaksanakan semua aturan dan ajaran ini secara kaffah. semoga bisa menjadi satu tamparan dan pemantik kita untuk lebih mengingat lagi posisi kita dalam keluarga.

Di kampus aktivis? betul. Namun, dalam keluarga, kita adalah tetap seorang anak yang harus bisa membagi prioritas dan membagi perhatian untuk orang terkasih.

Waktu dan ketetapan Allah tak mundur sedetik dan tak maju sedetik pun. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Sampaikanlah dan nyatakanlah cinta dan kasih sayang mu untuk mereka.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang kita. Saksikanlah Ibu, Ayah, tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang ananda lakukan ini. Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridha-Nya

Because He knows what you need

on Sabtu, 12 November 2011

Cerita tentang Anisa, gadis kecil yang berusia lima tahun. Suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebuah kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan tergantung dalam sebuah kotak pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki cantik. 

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. 
"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " 
Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. 
"Oke, Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?" 
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
"Terimakasih..., Ibu"

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau. Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur.

Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
"Anisa, Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu"
"Yah, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang, ngga apa-apa !"
Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,
"Anisa, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah. Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini"
Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya.
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya
"Kalau Ayah mau ambillah kalung Anisa"
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih, sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.
"Anisa, ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"
Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Allah meminta sesuatu dari kita, karena Allah berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik, menggantikan dengan sesuatu yang kita butuhkan. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa, menggenggam erat sesuatu yang kita anggap sangat berharga, dan tidak ikhlas jika harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karena Allah tau yang terbaik untuk kita. Bersyukur lah karena Allah masih belum meminta satu kenikmatan terbesar dari kita, yaitu kenikmatan dapat bernapas sampai saat ini :D

Apa Untungnya?

on Sabtu, 17 September 2011

masih ingat cerita seorang kakek yang sangat rajin membaca Al-Qur’an tiap pagi? Dia selalu duduk di kursi dapur dan tentunya membaca Al-Qur’an.
Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Al Qur’an tiap pagi. “Kakek, saya mencoba membaca Al-Qur’an seperti kakek, tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya membaca untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Al-Qur’an, saya selalu lupa lagi. Apa untungnya  Saya membaca Al-Qur’an ini?“.  
Sang kakek terdiam, dan menjawab, “Tolong ambilkan Kakek air dari sungai demgan keranjang ini, bawakanlah kakek sekeranjang air“.
Sang cucu menuruti permintaan kakek. Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang, Tapi, sesampai di rumah kakeknya, air itu selalu habis karena dibawa dengan keranjang. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lagi membawanya. Sang cucu berlari dengan cepat, tetapi tetap saja keranjang itu kosong sebelum dia sampai di rumah. Sang Cucu Kehabisan tenaga, Dia mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, lalu dia mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Kakek itu berkata, ” Kakek tidak mau seember air, tapi sekeranjang air, Kau belum berusaha keras melakukannya cucuku“. 
Meskipun si Cucu tahu dan sadar bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, namun Dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari lebih cepat lagi demi kakek, tapi tetap saja air itu habis sebelum sampai rumah. “Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya!” Kata Sang Cucu  dengan kesal. Kakek tersenyum, “Jadi Engkau Pikir, Ini Tidak Berguna? Coba perhatikan keranjang ini…“. Sang Cucu memperhatikan keranjang yang Dia bawa, dan dia sadar, bahwa keranjang  itu sangat berbeda sekarang.
Keranjang tersebut sudah berubah, dari keranjang yang kotor menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam. Subhanallah. “Cucuku, itulah yang terjadi saat kita membaca Al-Qur’an, Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau terus membacanya, kau akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Dan Itulah Cara ALLAH membersihkanmu, selain itu, lihat lah ke belakang, jalanan yang tadinya kering sampai-sampai tanaman enggan untuk menampakkan kecantikannya, telah kamu sirami tanpa sengaja, dan suatu saat, benih-benih tersebut akan bertunas menjadi sesuatu yang bermanfaat karena telah mendapatkan manfaat dari air yang kamu bawa cucuku,” tutur kakeknya. Sejak saat itu Sang Cucu berjanji akan mengkhatamkan 30 Juz minimal 1 kali dalam sebulan sebagaimana Sunnah Rasulullah SAW.

Everything is Achievable Through Education

on Minggu, 26 Juni 2011
“Setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan”
-Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1-

Jika ditilik lagi, masih banyak undang-undang terkait yang mendasari bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan itu tidaklah hanya terbatas untuk kalangan ber-DUIT saja. Pun saya juga percaya, kenapa tidak? Kita bangsa yang beradab, tahu bahwa negara ini berdiri atas dasar undang-undang. Namun semakin maraknya pembangunan digaungkan, semakin marak pula anak-anak putus sekolah. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena ekonomi. Benar sekali, ekonomi telah menjadi salah satu faktor penghambat anak-anak Indonesia untuk dapat merasakan manisnya bangku sekolah untuk meraup berjuta-juta ilmu yang dihamburkan oleh seorang pahlawan yang sarat akan jasa dan (sekarang) sarat pula akan tanda jasa.

Memang tidak salah dan tidak bisa disalahkan, bahwa masalah pendidikan yang bagus tidak bisa terlepas dari fasilitas yang membutuhkan banyak biaya. Sekali lagi, sangat banyak biaya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan teman-teman saya “mau kuliah dimana?” saja, saya sangat ciut kalau harus menjawab “ITB”, karena memang dulu di mata dan telinga saya, ITB itu “mahal”.

Imbasnya, saya hanya bisa menyimpan “ITB” dalam angan-angan saya paling dalam. Cuma bisa mencuri-curi mecari info tentang ITB lewat situsnya (www.itb.ac.id; www.usm.itb.ac.id, red). Karena memang belum ada link sama sekali untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang ITB. Belum ada alumni dari sekolah saya (MAN 3 Kediri, red) yang mengambil kuliah di ITB. Entah kenapa, saya juga kurang paham, padahal jika mereka mau mencoba saya yakin pasti bisa menembus soal-soal USM yang katanya bikin sakit perut dan kepala selama berhari-hari itu. Saya juga tidak punya cukup nyali untuk bertanya ini-itu tentang ITB kepada guru konseling. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di universitas yang masih berada di lingkup pengawasan orang tua secara langsung, alias tidak jauh-jauh dari rumah, masih berada di sekitar Jawa Timur. Saya mendaftar jurusan teknik kimia I*S yang berada di kota Surabaya melalui jalur beasiswa dan jurusan farmasi UG* yang berada di Jogjakarta juga melalui jalur beasiswa (PBUTM). Namun entah mengapa saya merasa tidak ada rasa yakin kalau berkas yang saya kirimkan bakal lolos, ditambah lagi bapak saya bilang “kalau kuliah ambil jauh, sekalian saja di Bandung, ada sanak di sana (disesuaikan dengan bahasa indonesia)”. Setelah saya mendaftar di I*S dan UG*, saya tidak berhenti untuk terus berdoa, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”.

Suatu ketika, di warnet sekolah yang biasanya diisi oleh siswa yang suka chatting sesama temannya yang berada di warnet yang sama pula, saya membuka browser internet explorer, yang memang lagi ngetrend-ngetrendnya di jaman itu. Lalu saya buka halaman google dan memasukkan kata kunci “beasiswa s1”. Sengaja saya mengeklik link teratas yang ada kata-kata ITB nya. Dan ternyata, tidak pernah disangka pula, akhirnya saya kuliah di ITB sampai sekarang ini. Saya berusaha dan mencoba untuk mendaftarkan berkas-berkas saya ke panitia Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS). Karena situs yang saya buka ternyata informasi pendaftaran Beasiswa ITB Untuk Semua, a.k.a BIUS, seperti yang biasa teman-teman dan saya menyebutnya. Syarat-syarat telah terpenuhi. Tidak ketinggalan, selembar essay ikut melayang terbang ke Bandung bersama berkas yang lainnya melalui jasa Pos Indonesia yang sekarang pamornya telah tertimbun oleh kehadiran teknologi, namun fungsinya tetap tidak tergantikan dalam hal mengirim dokumen-dokumen penting seperti yang tersebut di atas. Setelah mencoba mengirimkan berkas-berkas tersebut, lagi-lagi saya hanya bisa meminta dan terus berharap kepada Allah, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”. Karena saya yakin, keputusan dari Allah adalah sebaik-baik keputusa

Ikhtiar dan do’a pun terjawab oleh Allah. Meskipun tidak berharap lebih seperti sebelumnya (saat mendaftar di I*S dan UG*), ternyata keinginan orang tua dan saya pribadi dikabulkan oleh Allah. Saat detik-detik pengumuman, saat dimana beribu-ribu calon mahasiswa ITB berbondong-bondong untuk nonton bareng pengumuman hasil USM, saya tidak ada hasrat untuk ikut nobar tersebut. Saat relawan kring-kring saya, mbak Neni yang setia meng-kring-kring saya kapanpun saat dibutuhkan, meminta saya memberikan nomor registrasi dan nomor USM karena beliau mencoba membantu untuk melihatkan hasil USM tersebut. Pun rasa malu atau sedih kalau-kalau hasilnya tidak sesuai harapan sama sekali tidak terpikir. Monoton, datar, mengalir begitu saja. Tiba-tiba bagai serangan fajar di pagi hari, mbak Neni bilang kalau saya diterima di sekolah farmasi. “Alhamdulillah”, hanya ini yang bisa keluar dari pita suara. Tetap biasa saja. Sampai akhirnya besoknya saya baru melihat sendiri kalau ternyata saya memang diterima di ITB. “Alhamdulillah”, lagi-lagi hanya itu yang bisa keluar dari pita suara. Sempat terlintas, “untung dulu pernah nyasar di situs pendaftaran BIUS”, alhamdulillah segera tersadar bahwa sebenarnya bukan karena link itu atau karena keberuntungan saya bisa kuliah di ITB ini, bahwa ini telah ditakdirkan oleh Allah. Iya, ini adalah takdir dari Allah yang harus saya perjuangkan. Sekali lagi, HARUS SAYA PERJUANGKAN!

Benar sekali, perjuangan untuk dapat kuliah di ITB tidak hanya cukup sampai saya lolos USM ITB terpusat saja, karena perjalanan ini masih panjang. Kuliah pun saya baru masih setengah jalan. Ini memang masih sangat panjang. Karena, ini adalah tentang suatu perjalanan, bukan tentang tujuan. Tujuan saya tidak muluk-muluk, saya ingin agar adik-adik saya bisa mendapatkan pendidikan bahkan lebih tinggi dan lebih bagus dari saya. Namun perjalanannya itu lho, subhanallah sekali. Tidak bisa dikatakan mudah untuk bisa masuk dan kuliah di ITB ini, karena perjuangan untuk mencapainya pun juga sangat sulit. Tidak hanya sulit mengerjakan soal USM atau pun soal-soal ujian semesternya (ini pun juga sudah sangat sulit), tapi yang lebih sulit lagi adalah melewati dan meloloskan diri dari ujian kehidupan saat kuliah di ITB ini, banyak sekali ujian (atau cobaan?) yang saya hadapi saat kuliah dan hidup di sini.

Bagaimana saya bisa kuat? Itu yang biasanya sering terlintas dan tidak pernah saya jawab sendiri. Saya hanya berusaha merubah frame pikir saya, bahwa ujian-ujian itu akan membuat saya lebih kuat dari sebelumnya.
“Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya, melainkan agar dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, menjadi lebih sabar dari sebelumnya, dan menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.”
Sama seperti ujian pada umumnya, semua ujian adalah untuk meluluskan, dan bukan meloloskan, seseorang ke tahap yang lebih tinggi. Yang terpenting adalah kita harus mampu untuk melewatinya. Satu-satunya cara adalah berusaha dan terus berjuang serta tak lupa berdoa kepada Allah agar kita bisa terlatih sehingga akan mudah untuk melewati semua ujian yang kita hadapi.

Satu kunci yang selalu saya pegang adalah “YAKIN”. Ya, kita harus yakin terhadap semua yang kita lakukan, karena Allah itu ada dalam prasangka hamba-Nya. Yakin bahwa semua hasil usaha yang kita lakukan adalah yang terbaik yang diputuskan oleh Allah untuk kita. Kalau menurut kita hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, itu berarti hasil yang kita inginkan bukanlah yang terbaik untuk kita.

Just believe Allah, and you will know how enjoying your live. InsyaAllah
Thanks Allah, thanks BIUS, thanks all :D

Sebuah surat dari masa depan

on Kamis, 09 Desember 2010
Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: "JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR". Tapi tak seorang pun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air. Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi. Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon] Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari 'kawasan ventilasi' yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam 'kawasan ventilasi' tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas. Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ? Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga !. Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir. Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi. Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak, untuk masa depan kita dan generasi kita.

"AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPAN"

My Mother, My Hero

on Sabtu, 27 November 2010
Who should I give my love to?
My respect and my honor to
Who should I pay good mind to?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hold you
And clean you and clothes you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That's right no other
My mother...
Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think the most of?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hear you
Before you could talk
Who used to hold you?
Before you could walk
And when you fell who picked you up
Clean your cut
No one but your mother
My mother
Who should I stay rigt close to?
Listen most to
Never say no to
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hug you
And buy you new clothes
Comb your hair
And blow your nose
And when you cry
Who wiped your tears?
Knows your fears
Who really cares?
My mother
Say Alhamdulillah
Thank you Allah
Thank you Allah
For my mother....
My Mother, Yusuf Islam

Sebuah lagu yang membuat saya selalu ingat betapa beruntungnya saya memiliki seorang ibu yang sangat tangguh saat saya jatuh. Ya, Ibu saya adalah Pahlawan saya. Memang dari dulu belum pernah ada sekolah khusus untuk menjadi ibu seperti sekolah menjadi dokter, pengacara, akuntan, maupun profesi lainnya. Walaupun banyak sekali seminar, pelatihan, maupun buku-buku tentang bagaimana menjadi orang tua (ibu, red.) yang baik, bagaimana mendidik anak, dan berbagai topik berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu, namun itu bukanlah sebuah sekolah dan tidak akan pernah cukup untuk mempersiapkan dan melengkapi diri seorang wanita untuk menjadi ibu. Namun ibu saya bisa melakukan semua itu perfectly.

Menjadi ibu adalah sesuatu yang mulia, sebuah pelayanan kepada anaknya yang tidak tampak di muka umum dan memiliki tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan kerelaan hati. Menyita 24 jam hidupnya, dalam 7 hari seminggu, selama 52 minggu setahun. Itu semua dilakukan hanya untuk anak-anaknya. Betapa mulianya Engkau, Ibuku. 

Ibuku, yang selalu siap mengulurkan tangan menjawab kebutuhan anak-anaknya, tidak peduli rasa letih menguasai tubuh. Memberikan pelukan hangat di saat anak-anaknya merasakan kesepian. Mengucapkan kata-kata penghiburan kala anak-anaknya merasa sedih. Mendorong penuh semangat sewaktu anak-anaknya mengalami kegagalan.
  
Begitu berat memang tanggung jawab seorang Ibu. Beliau sangat ikhlas melakukan itu semua, demi masa depan anak-anaknya. Namun apa yang telah saya lakukan untuk Ibu? Bahkan saya belum bisa membalasnya, 1% pun belum. Memang kasih sayang seorang Ibu tidak akan bisa dibalas dengan sesuatu. Dan seorang Ibu tidak akan pernah meminta imbalan kepada anak-anaknya. Ibu hanya ingin melihat kegahagiaan dari anak-anaknya. Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya sukses. Namun, apa yang sudah saya lakukan? Bahkan diminta tolong saja selalu mencari-cari alasan. Dinasehati dengan satu kata, saya menjawab dengan beribu kata. Namun, Beliau tidak pernah marah dengan itu semua. Sekali lagi, sungguh mulia Engkau Ibu.
Sebuah ungkapan mengatakan, “dibalik kesuksesan seorang pria, ada seorang wanita.” Kita lirik sebentar sejarah masa lalu. Tokoh besar seperti Daud, nama Ibunya tidak pernah tercantum dalam kitab suci, namun Beliau memberikan kontribusi yang besar bagi seorang Daud kecil sehingga tumbuh menjadi seorang yang berpengaruh terhadap umatnya. 
Ibu, saya yakin dan sangat yakin, jerih lelah Engkau sebagai seorang ibu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Walaupun saya belum bisa membalas semuanya, dan tidak akan pernah bisa membalas semua itu. Walaupun predikat pahlawan tidak pernah diberikan oleh pemerintah, namun engkau adalah pahlawanku, yang tidak pernah mengenal kata menyerah.


Dengan Berbakti kepadanya lah, sebuah bentuk cinta dan sayang kita kepada Ibu.
For My Mother, My Hero :D

silahkan dibaca sejenak kawan. semoga menginspirasi hati kita

on Senin, 20 September 2010
Surat dari Gaza untuk Umat Islam di Indonesia
Untuk saudaraku di Indonesia,


Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia, Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?






Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis da'wah dari Jama'ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama'ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.






Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama'ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama'ah haji dari negeri kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian yah?. wah, pasti uang kalian sangat banyak yah?, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, Subhanallah.






Wahai saudaraku di Indonesia,


Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di GAZA ini, tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah, pasti sangat indah dan mengagumkan yah?. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian.






Pasti para ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.






Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku tidak seperti di negeri kami ini, saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil, yah diatas mobil saudaraku!.






Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2tahun lalu, namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.






Namun, mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya, terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah, itu yang kami dapat dari informasi televisi.






Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA, Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut?, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini.






Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan, atau got-got apalagi ditempat sampah? saudaraku! Mereka mati syahid, saudaraku! mati syahid, karena serangan roket tentara Israel!






Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini.






Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 desember (2009) kemarin, Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!






Wahai saudaraku di Indonesia,


Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena kalian sulit mencari rezki disana? apa negeri kalian sedang di blokade juga?






Perlu kalian ketahui, saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade.






Kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai Tata Usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami.






Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Yah, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah, diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku.






Dan Perdana menteri kami, yaitu Ust Isma'il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.






Wahai Saudaraku di Indonesia,


Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqoh pembinaan Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut, program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan buku-buku pasti kalian telah lahap, kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karena kalian punya waktu.






Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku. Satu jam, yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh, setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami.






Kami di sini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut walau cuma satu jam saudaraku, tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti ta'aruf, tafahum dan takaful di sana.






Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami, Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai nyanyian perang kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana Dengan kalian?






Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al-qur'an, umurnya baru 10 tahun, saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al-quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang.






Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma, yah di tempat itulah mereka belajar saudaraku, bunyi suara setoran hafalan al-quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel? Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung Mereka rasakan.






Wahai Saudaraku di Indonesia,


Oh, iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.






Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami di sini, termasuk kalian di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.






Oh, iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.






Akhhuka…..Abdullah ( Gaza City ..1430 H)










(Shared By Catatan Catatan Islami Pages)

Cinta Fillah, Lillah

on Senin, 30 Agustus 2010
Sebuah Renungan,buat para calon suami….calon istri jg boleh baca..! Semoga Bermanfaat
terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.


Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.


Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.Silahkan baca dan dihayati.
Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya…….. istri & calon istri juga boleh…
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.


Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.


Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.


Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa,tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.


Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata,”Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. . bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2, “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami suda tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.


Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya.”Anak2ku ………… Jikalau pernikahan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit..”


Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.


Disitulah Pak Suyatno bercerita..”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”
“Hidup adalah Perjuangan tanpa henti-henti … tidak usah kau tangisi hari kemarin”.

calendar

clock

Profil

Foto saya
Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik, agar tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi

Sahabat Yang Telah Bertamu

Serpihan Cerita

Diberdayakan oleh Blogger.

ayat hari ini

"Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. AL ISRA:19)

label

puzzle

cari