life is like metamorphose, you develop from the simplest one for being the best

Because He knows what you need

on Sabtu, 12 November 2011

Cerita tentang Anisa, gadis kecil yang berusia lima tahun. Suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebuah kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan tergantung dalam sebuah kotak pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki cantik. 

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. 
"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " 
Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. 
"Oke, Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?" 
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
"Terimakasih..., Ibu"

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau. Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur.

Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
"Anisa, Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu"
"Yah, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang, ngga apa-apa !"
Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,
"Anisa, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah. Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini"
Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya.
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya
"Kalau Ayah mau ambillah kalung Anisa"
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih, sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.
"Anisa, ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"
Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Allah meminta sesuatu dari kita, karena Allah berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik, menggantikan dengan sesuatu yang kita butuhkan. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa, menggenggam erat sesuatu yang kita anggap sangat berharga, dan tidak ikhlas jika harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karena Allah tau yang terbaik untuk kita. Bersyukur lah karena Allah masih belum meminta satu kenikmatan terbesar dari kita, yaitu kenikmatan dapat bernapas sampai saat ini :D

Fighting for...

on Senin, 19 September 2011

Entah kenapa akhir-akhir ini hobi lama bersemi kembali, yao, menulis sesuatu yang semoga bisa menjadi sumber kobaran api semangat teman-teman semua :)
masih ingat kah cerita pengantar tidur kita sewaktu kecil? yang diceritakan oleh sang ibunda tersayang dan tercantik atau oleh ayah terkasih dan terganteng? :)

Cerita tentang seekor katak kecil yang ternyata lebih gahul dan unggul dibandingkan dengan teman-temannya yang lain? kok bisa sih? ya bisa lah, ini nih lengkapnya..
jadi, suatu hari ada sekumpulan katak-katak kecil yang lagi berlomba-lomba, tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan tersebut dan memberikan semangat kepada para katak mungil. Perlombaan pun dimulai...

Secara jujur, tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak mungil akan bisa berhasil mencapai puncak menara. Terdengar ada yang berkata, "Ahhh, jalannya terlalu susahhhhh, mereka tidak akan bisa sampai ke puncak." Ada juga yang berkata, "Tidak ada kesempatan untuk berhasil, menaranya terlalu tinggi...!!"

Katak-Katak mungil satu-persatu mulai berjatuhan. Satu-persatu. Kecuali mereka yang tetap bersemangat menaiki menara perlahan- lahan dan semakin tinggi dan semakin tinggi. Penonton terus bersorak, "Terlalu susah!!! Tak seekor pun yang akan berhasil!!!" Dan lebih banyak lagi katak mungil yang lelah dan menyerah.

Tapi ternyata ada SATU yang tetap melangkah hingga semakin tinggi dan mendekati puncak. Dia tak kenal menyerah. Akhirnya yang lain telah putus asa untuk menaiki menara. Kecuali  seekor katak kecil yang usahanya begitu keras dan menjadi satu-satunya yang BERHASIL sampai ke PUNCAK.

Semua katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya. Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil itu mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan. Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu tuli.

Nah lhohh, jangan sekali-kali menghiraukan kata-kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis terhadap apa yang mau kita raih. Karena mereka akan mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca sangat mempengaruhi psikologis dan perilaku kita!
 
Makanya, kita harus selalu tetap positive thinking, Jadikanlah apa yang orang lain katakan kepada kita menjadi sebuah batu sandungan atau pijakan untuk melompat lebih tinggi. :) :) :)

Apa Untungnya?

on Sabtu, 17 September 2011

masih ingat cerita seorang kakek yang sangat rajin membaca Al-Qur’an tiap pagi? Dia selalu duduk di kursi dapur dan tentunya membaca Al-Qur’an.
Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Al Qur’an tiap pagi. “Kakek, saya mencoba membaca Al-Qur’an seperti kakek, tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya membaca untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Al-Qur’an, saya selalu lupa lagi. Apa untungnya  Saya membaca Al-Qur’an ini?“.  
Sang kakek terdiam, dan menjawab, “Tolong ambilkan Kakek air dari sungai demgan keranjang ini, bawakanlah kakek sekeranjang air“.
Sang cucu menuruti permintaan kakek. Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang, Tapi, sesampai di rumah kakeknya, air itu selalu habis karena dibawa dengan keranjang. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lagi membawanya. Sang cucu berlari dengan cepat, tetapi tetap saja keranjang itu kosong sebelum dia sampai di rumah. Sang Cucu Kehabisan tenaga, Dia mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, lalu dia mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Kakek itu berkata, ” Kakek tidak mau seember air, tapi sekeranjang air, Kau belum berusaha keras melakukannya cucuku“. 
Meskipun si Cucu tahu dan sadar bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, namun Dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari lebih cepat lagi demi kakek, tapi tetap saja air itu habis sebelum sampai rumah. “Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya!” Kata Sang Cucu  dengan kesal. Kakek tersenyum, “Jadi Engkau Pikir, Ini Tidak Berguna? Coba perhatikan keranjang ini…“. Sang Cucu memperhatikan keranjang yang Dia bawa, dan dia sadar, bahwa keranjang  itu sangat berbeda sekarang.
Keranjang tersebut sudah berubah, dari keranjang yang kotor menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam. Subhanallah. “Cucuku, itulah yang terjadi saat kita membaca Al-Qur’an, Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau terus membacanya, kau akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Dan Itulah Cara ALLAH membersihkanmu, selain itu, lihat lah ke belakang, jalanan yang tadinya kering sampai-sampai tanaman enggan untuk menampakkan kecantikannya, telah kamu sirami tanpa sengaja, dan suatu saat, benih-benih tersebut akan bertunas menjadi sesuatu yang bermanfaat karena telah mendapatkan manfaat dari air yang kamu bawa cucuku,” tutur kakeknya. Sejak saat itu Sang Cucu berjanji akan mengkhatamkan 30 Juz minimal 1 kali dalam sebulan sebagaimana Sunnah Rasulullah SAW.

Everything is Achievable Through Education

on Minggu, 26 Juni 2011
“Setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan”
-Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1-

Jika ditilik lagi, masih banyak undang-undang terkait yang mendasari bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan itu tidaklah hanya terbatas untuk kalangan ber-DUIT saja. Pun saya juga percaya, kenapa tidak? Kita bangsa yang beradab, tahu bahwa negara ini berdiri atas dasar undang-undang. Namun semakin maraknya pembangunan digaungkan, semakin marak pula anak-anak putus sekolah. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena ekonomi. Benar sekali, ekonomi telah menjadi salah satu faktor penghambat anak-anak Indonesia untuk dapat merasakan manisnya bangku sekolah untuk meraup berjuta-juta ilmu yang dihamburkan oleh seorang pahlawan yang sarat akan jasa dan (sekarang) sarat pula akan tanda jasa.

Memang tidak salah dan tidak bisa disalahkan, bahwa masalah pendidikan yang bagus tidak bisa terlepas dari fasilitas yang membutuhkan banyak biaya. Sekali lagi, sangat banyak biaya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan teman-teman saya “mau kuliah dimana?” saja, saya sangat ciut kalau harus menjawab “ITB”, karena memang dulu di mata dan telinga saya, ITB itu “mahal”.

Imbasnya, saya hanya bisa menyimpan “ITB” dalam angan-angan saya paling dalam. Cuma bisa mencuri-curi mecari info tentang ITB lewat situsnya (www.itb.ac.id; www.usm.itb.ac.id, red). Karena memang belum ada link sama sekali untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang ITB. Belum ada alumni dari sekolah saya (MAN 3 Kediri, red) yang mengambil kuliah di ITB. Entah kenapa, saya juga kurang paham, padahal jika mereka mau mencoba saya yakin pasti bisa menembus soal-soal USM yang katanya bikin sakit perut dan kepala selama berhari-hari itu. Saya juga tidak punya cukup nyali untuk bertanya ini-itu tentang ITB kepada guru konseling. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di universitas yang masih berada di lingkup pengawasan orang tua secara langsung, alias tidak jauh-jauh dari rumah, masih berada di sekitar Jawa Timur. Saya mendaftar jurusan teknik kimia I*S yang berada di kota Surabaya melalui jalur beasiswa dan jurusan farmasi UG* yang berada di Jogjakarta juga melalui jalur beasiswa (PBUTM). Namun entah mengapa saya merasa tidak ada rasa yakin kalau berkas yang saya kirimkan bakal lolos, ditambah lagi bapak saya bilang “kalau kuliah ambil jauh, sekalian saja di Bandung, ada sanak di sana (disesuaikan dengan bahasa indonesia)”. Setelah saya mendaftar di I*S dan UG*, saya tidak berhenti untuk terus berdoa, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”.

Suatu ketika, di warnet sekolah yang biasanya diisi oleh siswa yang suka chatting sesama temannya yang berada di warnet yang sama pula, saya membuka browser internet explorer, yang memang lagi ngetrend-ngetrendnya di jaman itu. Lalu saya buka halaman google dan memasukkan kata kunci “beasiswa s1”. Sengaja saya mengeklik link teratas yang ada kata-kata ITB nya. Dan ternyata, tidak pernah disangka pula, akhirnya saya kuliah di ITB sampai sekarang ini. Saya berusaha dan mencoba untuk mendaftarkan berkas-berkas saya ke panitia Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS). Karena situs yang saya buka ternyata informasi pendaftaran Beasiswa ITB Untuk Semua, a.k.a BIUS, seperti yang biasa teman-teman dan saya menyebutnya. Syarat-syarat telah terpenuhi. Tidak ketinggalan, selembar essay ikut melayang terbang ke Bandung bersama berkas yang lainnya melalui jasa Pos Indonesia yang sekarang pamornya telah tertimbun oleh kehadiran teknologi, namun fungsinya tetap tidak tergantikan dalam hal mengirim dokumen-dokumen penting seperti yang tersebut di atas. Setelah mencoba mengirimkan berkas-berkas tersebut, lagi-lagi saya hanya bisa meminta dan terus berharap kepada Allah, “Ya Allah, apabila ini adalah yang terbaik untuk ku, maka permudahlah, apabila ini bukan yang terbaik untukku, maka gantilah dengan yang lebih baik”. Karena saya yakin, keputusan dari Allah adalah sebaik-baik keputusa

Ikhtiar dan do’a pun terjawab oleh Allah. Meskipun tidak berharap lebih seperti sebelumnya (saat mendaftar di I*S dan UG*), ternyata keinginan orang tua dan saya pribadi dikabulkan oleh Allah. Saat detik-detik pengumuman, saat dimana beribu-ribu calon mahasiswa ITB berbondong-bondong untuk nonton bareng pengumuman hasil USM, saya tidak ada hasrat untuk ikut nobar tersebut. Saat relawan kring-kring saya, mbak Neni yang setia meng-kring-kring saya kapanpun saat dibutuhkan, meminta saya memberikan nomor registrasi dan nomor USM karena beliau mencoba membantu untuk melihatkan hasil USM tersebut. Pun rasa malu atau sedih kalau-kalau hasilnya tidak sesuai harapan sama sekali tidak terpikir. Monoton, datar, mengalir begitu saja. Tiba-tiba bagai serangan fajar di pagi hari, mbak Neni bilang kalau saya diterima di sekolah farmasi. “Alhamdulillah”, hanya ini yang bisa keluar dari pita suara. Tetap biasa saja. Sampai akhirnya besoknya saya baru melihat sendiri kalau ternyata saya memang diterima di ITB. “Alhamdulillah”, lagi-lagi hanya itu yang bisa keluar dari pita suara. Sempat terlintas, “untung dulu pernah nyasar di situs pendaftaran BIUS”, alhamdulillah segera tersadar bahwa sebenarnya bukan karena link itu atau karena keberuntungan saya bisa kuliah di ITB ini, bahwa ini telah ditakdirkan oleh Allah. Iya, ini adalah takdir dari Allah yang harus saya perjuangkan. Sekali lagi, HARUS SAYA PERJUANGKAN!

Benar sekali, perjuangan untuk dapat kuliah di ITB tidak hanya cukup sampai saya lolos USM ITB terpusat saja, karena perjalanan ini masih panjang. Kuliah pun saya baru masih setengah jalan. Ini memang masih sangat panjang. Karena, ini adalah tentang suatu perjalanan, bukan tentang tujuan. Tujuan saya tidak muluk-muluk, saya ingin agar adik-adik saya bisa mendapatkan pendidikan bahkan lebih tinggi dan lebih bagus dari saya. Namun perjalanannya itu lho, subhanallah sekali. Tidak bisa dikatakan mudah untuk bisa masuk dan kuliah di ITB ini, karena perjuangan untuk mencapainya pun juga sangat sulit. Tidak hanya sulit mengerjakan soal USM atau pun soal-soal ujian semesternya (ini pun juga sudah sangat sulit), tapi yang lebih sulit lagi adalah melewati dan meloloskan diri dari ujian kehidupan saat kuliah di ITB ini, banyak sekali ujian (atau cobaan?) yang saya hadapi saat kuliah dan hidup di sini.

Bagaimana saya bisa kuat? Itu yang biasanya sering terlintas dan tidak pernah saya jawab sendiri. Saya hanya berusaha merubah frame pikir saya, bahwa ujian-ujian itu akan membuat saya lebih kuat dari sebelumnya.
“Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya, melainkan agar dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya, menjadi lebih sabar dari sebelumnya, dan menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.”
Sama seperti ujian pada umumnya, semua ujian adalah untuk meluluskan, dan bukan meloloskan, seseorang ke tahap yang lebih tinggi. Yang terpenting adalah kita harus mampu untuk melewatinya. Satu-satunya cara adalah berusaha dan terus berjuang serta tak lupa berdoa kepada Allah agar kita bisa terlatih sehingga akan mudah untuk melewati semua ujian yang kita hadapi.

Satu kunci yang selalu saya pegang adalah “YAKIN”. Ya, kita harus yakin terhadap semua yang kita lakukan, karena Allah itu ada dalam prasangka hamba-Nya. Yakin bahwa semua hasil usaha yang kita lakukan adalah yang terbaik yang diputuskan oleh Allah untuk kita. Kalau menurut kita hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, itu berarti hasil yang kita inginkan bukanlah yang terbaik untuk kita.

Just believe Allah, and you will know how enjoying your live. InsyaAllah
Thanks Allah, thanks BIUS, thanks all :D

Sebuah surat dari masa depan

on Kamis, 09 Desember 2010
Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: "JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR". Tapi tak seorang pun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air. Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi. Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon] Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari 'kawasan ventilasi' yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam 'kawasan ventilasi' tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas. Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ? Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga !. Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir. Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi. Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak, untuk masa depan kita dan generasi kita.

"AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPAN"

calendar

clock

Profil

Foto saya
Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik, agar tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi

Sahabat Yang Telah Bertamu

Serpihan Cerita

Diberdayakan oleh Blogger.

ayat hari ini

"Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. AL ISRA:19)

label

puzzle

cari